Minggu, 22 Maret 2009

Kobe's Wedding

Tanggal 21 Maret 2009. Aku bangun pagi-pagi, mandi dan mempersiapkan semua yang sekiranya akan aku perlukan selama perjalanan. Pukul 05.45 WIB aku berangkat dari rumah menuju tempat kos Yulia untuk menitipkan motorku di sana. Jadwal ngumpul di kampus DEKKIM pukul 06.00 WIB, membuat aku agak ngebut saat mengendarai motor. Tapi tetap saja, aku sampai di kos Yulia pukul 06.15 WIB, dan aku masih harus menunggu Baety yang kata Yulia sih juga mau datang ksana menitipkan motor. Waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB, dan Baety belum juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke kampus duluan.
Sampai dikampus, ternyata belum ada siapa-siapa. Yang ada hanya Ipul yang terlihat sedang buru-buru menaiki motornya. "Lho, arek-arek endi, Pul?" tanya Yulia. "Emboh, durung teko. Aku dewean neng kene," jawab Ipul. "Lha trus kamu mau kemana?" tanya Yulia lagi. "Nyusul Gilon," jawab Ipul sembari menyalakan motornya dan pergi meninggalkan kami berdua sendiri di taman dekkim yang sepi. "Yan, jangan-jangan anak-anak nunggu aku di GW. Soalnya kemarin aku bilang mau ksana buat ngimbal," ujar Yulia. "Iya tah? Ya udah, kamu ke GW aja sekarang, sambil liat keadaan di sana," timpalku. "Ya udah, aku ke sana dulu ya, Yan," pamitnya disertai anggukanku. Akhirnya, tinggallah aku sendiri di taman ini. 3 menit... 5 menit... akhirnya Ipul datang dengan membonceng Gilon. Tak seberapa lama setelah kami saling bertegur sapa dan bertanya kabar, terlihat dari kejauhan Faisal datang, kemudian memarkir motornya di sebelah motor Ipul. "Lho, endi arek-arek? Jare budhal jam setengah 7. Iki wis jam piro? kok jek sepi ngene? Tiwas aku ngebut-ngebut mau, wedi di tinggal," ujar Faisal. "Halah, biasalah Sal, koen koyok ga ngerti arek-arek ae," timpal Ipul. Akhirnya kami berempat kembali tenggelam dalam sebuah perbincangan sembari menunggu teman-teman yang lain datang.
Satu per satu, teman-teman mulai berdatangan. Pukul 07.30 WIB, Faisal dan Ipul berangkat ke rumah Didi untuk mengambil mobil yang kami sewa untuk berangkat ke Kediri. Sekitar pukul 08.00 WIB, Adi, Magha dan Dahlia datang dengan mengendarai mobil Carry milik Dahlia. Sedangkan mobil yang diambil Faisal datang beberapa menit setelah itu. "Wis yo? Wis komplit kan? Ayo budhal," ujar teman-teman putra. "Lho, endi Magha karo Adi? Kok ngilang?" beberapa anak bertanya. "Kayaknya lagi sarapan, soalnya tadi keliatan bawa bungkusan nasi," jawab yang lain. Magha di sms, tapi g ada balasan, di misscall juga dimatikan. Akhirnya kami menunggu lagi... Yaaaa.... Saaaaabbbbbaaaarrrr buuuu.... hhhh... cape' dech...
Tak seberapa lama, akhirnya Magha dan Adi datang, "sorry rek, sopir'e mangan dhisik."
Setelah mengatur posisi tempat duduk, biar muat, kami melaju meninggalkan kampus dekkim... tepat pukul 08.30 WIB. tapi kami tak langsung berangkat ke Kediri, kami harus menjemput Lia di Sidoarjo. Kami pun melanjutkan perjalanan, tak terasa membosankan karena kami selalu bercanda, dan ada saja topik-topik yang menjadi bahan perbincangan kami, kuliah, politik, kesehatan... wah macem-macem lah. Mendadak kami agak bete' juga karena ternyata kami nyasar.... hahaha... nyasarnya lumayan jauh juga, sedangkan yang tau jalan, si Rendra, udah melaju duluan meninggalkan 2 mobil yang merana ini, hehehe... Kami akhirnya harus bolak-balik berhenti nanya sama orang-orang yang ada di sana karena takut kesasar lagi. Nyampe di Kediri pukul 12.30. Itupun kami harus kesasar lagi, weleh... Karena tempat tujuan kami ternyata tak seperti yang sudah kami bayangkan sebelumnya. Tak ada terop, tak ada soundsystem, tak ada baju pengantin, wis pokok'e sederhana buanget. Kami mengira acara telah selesai, tapi setelah kami mengamati dan melihat pengantinnya tidak berdandan, kami mulai menyimpulkan bahwa memang sedari tadi tidak ada acara seperti layaknya acara walimahan yang sering kami datangi. Acaranya sekedar salaman dengan mempelai, duduk, ngobrol, beramah-tamah... ya sekedar itu, layaknya kami bertamu dan kami dijamu oleh pemilik rumah. Setelah kami, teman-teman putri, berfoto bersama pengantin, kami disuguhi makan siang dan dessert-nya, pisang jumbo dan semangka, wow... khas desa bangetz.
Setelah puas berada di sana dan berfoto-foto ria dengan mempelai berdua, kami berpamitan pulang, itu sekitar setengah tiga sore. Tapi kami tidak langsung pulang, kami mampir dulu di rumah Silvi yang terletak di daerah perbatasan. Disana kami disuguhi lagi dengan banyak makanan, bisa dibayangkan sendiri, saat kami baru tiba, kami disuguhi beraneka macam snack yang bertoples-toples, setelah itu kami disuguhi jus jambu biji. Tak seberapa lama, keluarlah makanan yang lebih berat dari dalam dapur.... bakso beserta lontongnya dan es campur. wow... bisa dibayangkan bagaimana kenyangnya jika harus mengambil semuanya 1 porsi penuh... Yah, demi menghargai niat baik si pemilik rumah, akhirnya aku harus juga mencicipi bakso yang sebenarnya aku tak begitu suka. Es campur pun aku makan semangkuk berdua dengan Yulia yang juga terlihat kekenyangan. Subhanallah, liatlah teman-teman putra masih mau nambah... dan nambah... sampai-sampai bakso satu mangkuk besar yang disuguhkan itu habis tak bersisa... bener-bener ngajeni ya... hehehe...
Kami akhirnya berpamitan pulang setelah sebelumnya kami menunaikan sholat Ashar dan berfoto bersama di teras depan rumah Silvi. Rombongan yang ikut mobil Rendra melajukan mobilnya duluan, karena harus mengantar Rahma dahulu. Sedangkan 2 mobil yang lain masih tertinggal karena kami mampir dulu beli tahu di pertokoan pusat oleh-oleh, TAHU KEDIRI. Kira-kira setengah lima sore kami memulai lagi perjalanan panjang menuju Surabaya... semakin sore, jalanan semakin ramai, maklum malam minggu. Jalanan yang ramai itu membuat kami semakin kemalaman, sampai di kampus pukul 19.30 WIB. Kami kelelahan, sehingga kami buru-buru pulang. Biasa, sebelum pulang, kami harus imbal-imbal lagi seperti tadi pagi. Akhirnya aku sampai kos Yulia pukul 20.00 WIB untuk mengambil motor yang tadi kutitipkan, dan bergegas pulang. Sampai dirumah pukul 20.30 WIB. Aku bersegera mandi dengan air hangat... hhhhuuuffff... segar sekali, pegal-pegal yang aku rasakan karena seharian duduk di mobil, terasa sedikit hilang. Setelah makan malam dan mentransfer hasil foto kami, aku segera terlelap... Hmmm... capek sih, tapi banyak pengalaman baru yang aku dapatkan, dan pengalaman ini tak akan terlupakan.... Saat-saat berkumpul kembali bersama teman-teman... kapankah ada lagi???

Minggu, 15 Maret 2009

THE WEDDING

Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Segera aku mandi dan Sholat, lalu menyiapkan keperluan apa saja yang harus aku bawa. oya, hampir saja kado yang kupersiapkan semalaman itu tertinggal. Kemudian, setelah beres semuanya aku segera berangkat, tapi ibu menyuruhku untuk sarapan dulu, ya udah deh... karena malas makan akhirnya aku hanya makan seiris roti tawar dan segelas susu yang sudah disiapkan ibu. selesai makan aku bergegas mengeluarkan motor bututku yang belum dicuci dan diservice semenjak kecelakaan. Uhh... bisa pembaca bayangkan bagaimana kotor dan dekilnya.
Kupanaskan mesin motornya dan segera melesat ke jalan raya menuju kota yang belum lama kutinggalkan, Bangil. Ya, aku akan ke Bangil lagi. Kali ini bukan untuk mengajar, melainkan untuk menghadiri pernikahan kawan seprofesi, Pak Gatot dan Bu Dyah Wirda.
Sampai di Bangil, aku sempatkan untuk mampir asrama, siapa tahu anak-anak belum berangkat. Tapi ternyata setelah ku intip dari balik jendela, yang ada hanya suasana sepi, kutanyakan pada para tetangga di sana, mereka hanya menjawab, "Kirangan, sampun bidal sedanten mbok menawi". Yach, ya sudah deh, aku langsung menuju sekolah, berharap mereka masih menungguku.
Begitu memasuki sekolah, aku berpapasan dengan Lathifa dan Shofi, mereka langsung menyerbuku, "Kak Diaaaaannnn..." mereka langsung menyalamiku dan si Shofi langsung aja naik di jok belakang sambil berseru "Gonceng ya kak..." padahal cuma untuk melewati halaman sekolah saja. Ketika kuparkirkan motorku ditempat parkir, anak-anak yang lain segera mendatangi dan menyalamiku. Izzah yang selalu kumat errornya nyeletuk,"Kak, kok pipinya kempes? di Surabaya ga ada yang nyubitin ya?haha" Aku hanya tersenyum saja mendengar celotehnya. Setelah puas bercengkrama dengan anak-anak itu, aku melihat Pak Mukhlis dan Pak Alief datang. Aku mendekati mereka dan mengucapkan salam. Mereka surprise melihatku dan mengajakku ngobrol sebentar.
Tak berapa lama, kami semua berangkat menuju lokasi pernikahan, di rumah Bu Dyah Wirda. Kukemudikan motorku perlahan-lahan dibelakang anak-anak SMP yang pada ngontel. Begitu sampai di lokasi, aku bertemu dengan banyak guru-guru Al Uswah... Wah, Subhanallah... Aku kangen banget dengan mereka, padahal baru seminggu aku meninggalkan mereka. Setelah kangen-kangenan dan menunggu beberapa saat, akhirnya pasangan pengantin itu keluar dari "sarangnya". Wow, Bu Dyah cantik banget, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya, terlihat sekali kalau beliau benar-benar bahagia. Pak Gatot terlihat agak grogi, beliau juga agak gelisah. sepertinya beliau gelisah gara-gara kepanasan. Maklum saja, para undangan aja kepanasan gimana dengan pengantinnya? jelas tambah kepanasan dengan pakaian pengantin yang njelimet, biasalah pakaian pengantin adat jawa gitu.
Setelah acara sambutan dari pihak mempelai laki-laki dan perempuan, serta pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh sang Manager Al Uswah, Ust. Amin, acara selanjutnya adalah ramah tamah, dimulai dengan makan dan pembagian es krim. Wuih, tempatnya full banget, aku sampai tidak bisa kemana-mana walaupun untuk sekedar menyapa guru-guru yang baru berdatangan.
Akhirnya sedikit demi sedikit tamu-tamu pulang, tinggallah beberapa sanak keluarga mempelai, guru-guru Al Uswah dan siswa-siswi SMP, kami berfoto-foto ria. Untungnya aku bawa kamera, sekalian saja aku minta Pak Mukhlis untuk jadi fotografer. Tapi kok, hasilnya jadi kacau semua sih Pak Mukhlis??? Hehe... biar deh, kan biar keliatan alami ya. Setelah puas berfoto dan bercanda bersama, kami pulang. Rombonganku "bermarkas" dulu di sekolahan sambil ambil lauk untuk anak-anak SMP, sedangkan aku mengantarkan Bu Suci pulang.
Sebelum aku pulang ke Surabaya, aku berpamitan dengan anak-anak, Pak Mukhlis, Pak Alief, Pak Ridwan, Mbak Ita serta elemen penting Al Uswah yang lainnya. Kemudian aku kembali kerumah Bu Suci untuk menyelesaikan beberapa urusan sambil bercengkrama dengan Arda yang lutchu... :)
Diperjalanan pulang, kuputar lagi memoriku saat berada di lokasi acara, aku senyum-senyum sendiri. bagaimana tidak? jika ingat dulu, Bu Dyah Wirda dengan beberapa guru lain sering menggojlok Pak Gatot yang belum nikah di usia yang sekian. Dan ketika itu Pak Gatot membela diri untuk menangkis gojlokan mereka. Kemudian ketika dulu saling menjaga jarak karena bukan muhrimnya, sekarang mereka terlihat selalu bergandengan tangan... ah lucunya... Rencana Allah itu memang mengejutkan dan tak disangka-sangka ya. Semuanya begitu indah.
Selamat menempuh hidup baru untuk Pak Gatot dan Bu Dyah Wirda, Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Rabu, 11 Maret 2009

BERAKHIR SUDAH

Semuanya telah selesai. Perjalananku di Al Uswah Bangil. Terimakasih Allah, karena telah memberikan aku kesempatan untuk banyak belajar di Al Uswah. Teman2 yang baik, siswa-siswi SDIT-SMPIT, dan semua elemen Al Uswah.
  • Terimakasih Ust. Amin dan Bu Lala yang sudah memberikan kesempatan padaku untuk mengecapi manisnya ukhuwah di Al Uswah. Dikaulah Ayahanda dan Ibundaku selama ini.
  • Bu Lulu dan Pak Yuli selaku kepala unit SDIT dan SMPIT. Terimakasih telah membimbingku. You're the best sister and brother I ever had.
  • Bu Suci dan Bu Candra yang selalu bersedia menjadi tempat curhatku.
  • Bu Eni dan Bu Is yang selalu kukagumi performance-nya. So Energic, So Creative.
  • Pak Totok yang calm and confidence. Afwan jika selama 7 bulan ini kita jarang banget bisa akur. Walau bagaimanapun, saya selalu menghormati antum yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri.
  • Pak Agus yang lugu dan polos, tapi kocak dan pinter :) yang selalu mengingatkanku pada Yogie dan Sigit, adik2ku semasa duduk di bangku SMU dan Kuliah. How are they?
  • Bu Nurul dan Bu Tatik yang kalem, juga Bu Ratna yang selalu semangat dan enerjik. How Sweet you are!
  • Bang Rahman dan Pak Hendrik yang kalem, tapi gemar juga ngeledekin saya hehe... :)
  • Pak Gatot dan Pak Alief yang selalu ber-Assalamu'alaikum dengan saya...
  • Bu Yani yang selalu ceria, everywhere, everytime.
  • Bu Win yang kreatif dan Bu Dyah Wirda yang scientist bgt.
  • Wooow... hampir ketinggalan Pak Mukhlis yang lebih banyak konyol ketimbang serius :) yang udah pengen banget ngajarin bahasa Arab pada saya yang selalu aja kabuuuuurrr.... hehe... coz susah bgtz c ...
  • Komandan Al Uswah, Pak Ridwan yang sering error
  • Koki Al Uswah, Mbak Ita. Walau saya baru kenal, tapi saya sudah kangen lho sama masakannya mbak Ita.
  • Bu Irma, partnerku di lab. komputer dan Bu Aniqoh sang bendahara, orang yang paling dekat denganku sejak aku dipindahkan ke perpustakaan.
  • Bu Yuli, Bu Fadloen, Pak Ikhlas yang always standby di kantor
  • Bu Fitri, partnerku selama di asrama, afwan ya ga bisa lagi nemenin kamu. Mungkin lebih baik begini adanya.
  • Bu Dyah, Bu, Iin, Bu Indah dan guru2 lainnya di KBIT dan TKIT Al Uswah...
  • Anak2 didik Al Uswah, I excellent & brilliant, II smart & star, III best & bright, IV champion, V winner dan VII perfect... I luv U all...
Terimakasih semuanya... akan kulanjutkan perjalanan hidupku tanpa kalian semua... namun, kalian tetap dihati ini sampai kapanpun... hehe... melankolis bangetz ya...

Sabtu, 28 Februari 2009

Back To Bangil

Sudah seminggu ini aku di Surabaya menjalani pengobatan. sudah saatnya aku kembali ke Bangil tempat aku bekerja untuk menyelesaikan segala urusanku disana. Resign, ya... aku akan resign dari Al Uswah untuk kembali ke Surabaya dan mengikuti kembali pengobatan yang sempat terputus. rasanya sangat disayangkan jika kiprahku di Al Uswah ini hanya seumur jagung. tapi biarlah... demi... ini demi diriku juga kan?!
Terimakasih untuk mas Aan yang secara tidak langsung telah menguatkan keputusan untuk kembali ke surabaya, yang telah menyembuhkan kebimbanganku..

Senin, 23 Februari 2009

Pagi yang PANASSSS.... aku bangun sangat.... sangat.... kesiangan. Semalam sengaja download program sampe tengah malam... sambil menikmati kesendirianku di tengah malam yang sepi dan dingin. Sekarang aku belum bisa balik ke kota tempat aku bekerja. Aku harus menjalani fisioterapi untuk kakiku yang cedera akibat kecelakaan sebulan yang lalu. hmmm... aku sudah rindu dengan teman-teman guru... candanya yang tak kan pernah ku dapatkan dimanapun. namun ada juga kenyamanan di rumah ini yang membuat aku enggan kembali kesana, bertemu dengan mereka2 yang telah membuat aku hancur sedikit demi sedikit, mengikis tembook pertahananku perlahan-lahan tanpa mereka menyadarinya sedikitpun

hari yang menyenangkan

pagi itu udara terasa sangat sejuk sekali...
ba'da subuh aku bergegas merapikan diri dan segera melangkahkan kakiku menuju sebuah tempat. 20 menit waktu kutempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak...
setelah sampai disana... aku melihat dengan jelas sosok yang telah menungguku itu..
ah.. indahnya ciptaan Allah yang satu ini... begitu lembut dan damai... hatiku tertawan...

Setelah itu, kami memulai perjalanan panjang ini bersama, sepanjang hari menelisik sudut-sudut kota yang tak pernah disentuhnya selama ini, mencoba berbagai hal baru yang tak pernah ia rasakan... sepanjang hari, aku mendampinginya kemanapun ia pergi. hmm... senangnya menjadi seorang yang sangat penting untuknya... ya.. aku merasa hidupku lebih berharga dan bermakna ketika berada disampingnya.. sebagai seorang wanita, aku merasa begitu dimuliakannya. Seolah-olah... aku telah dapat melupakan masa laluku yang kelam.

ya Allah... namun ketika malam mulai sepi dan gelap... aku mulai menyadari, aku takkan bisa memilikinya.. Karena ia begitu indah... begitu memukau, begitu mempesona... begitu bercahaya...

sendiri

ya... rasanya sepi, walau disekitarku sangat ramai... gelak tawa yang membisingkan, ekspresi yang dibuat-buat...
Ya Allah aku muak dengan keadaan ini... munafik!!
Ya Allah, ridhoi aku keluar dari keadaan ini
Sungguh rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menambah waktuku disini.
jika tak ada orang yang sangat aku sayangi, mungkin aku takkan bisa bertahan selama ini.
Allah... izinkan aku sendiri... membalut luka hati ini... dan pergi dari semua, yang telah menggoreskan mata pisaunya dihatiku ini