Minggu, 15 Maret 2009

THE WEDDING

Pagi itu aku bangun lebih pagi dari biasanya. Segera aku mandi dan Sholat, lalu menyiapkan keperluan apa saja yang harus aku bawa. oya, hampir saja kado yang kupersiapkan semalaman itu tertinggal. Kemudian, setelah beres semuanya aku segera berangkat, tapi ibu menyuruhku untuk sarapan dulu, ya udah deh... karena malas makan akhirnya aku hanya makan seiris roti tawar dan segelas susu yang sudah disiapkan ibu. selesai makan aku bergegas mengeluarkan motor bututku yang belum dicuci dan diservice semenjak kecelakaan. Uhh... bisa pembaca bayangkan bagaimana kotor dan dekilnya.
Kupanaskan mesin motornya dan segera melesat ke jalan raya menuju kota yang belum lama kutinggalkan, Bangil. Ya, aku akan ke Bangil lagi. Kali ini bukan untuk mengajar, melainkan untuk menghadiri pernikahan kawan seprofesi, Pak Gatot dan Bu Dyah Wirda.
Sampai di Bangil, aku sempatkan untuk mampir asrama, siapa tahu anak-anak belum berangkat. Tapi ternyata setelah ku intip dari balik jendela, yang ada hanya suasana sepi, kutanyakan pada para tetangga di sana, mereka hanya menjawab, "Kirangan, sampun bidal sedanten mbok menawi". Yach, ya sudah deh, aku langsung menuju sekolah, berharap mereka masih menungguku.
Begitu memasuki sekolah, aku berpapasan dengan Lathifa dan Shofi, mereka langsung menyerbuku, "Kak Diaaaaannnn..." mereka langsung menyalamiku dan si Shofi langsung aja naik di jok belakang sambil berseru "Gonceng ya kak..." padahal cuma untuk melewati halaman sekolah saja. Ketika kuparkirkan motorku ditempat parkir, anak-anak yang lain segera mendatangi dan menyalamiku. Izzah yang selalu kumat errornya nyeletuk,"Kak, kok pipinya kempes? di Surabaya ga ada yang nyubitin ya?haha" Aku hanya tersenyum saja mendengar celotehnya. Setelah puas bercengkrama dengan anak-anak itu, aku melihat Pak Mukhlis dan Pak Alief datang. Aku mendekati mereka dan mengucapkan salam. Mereka surprise melihatku dan mengajakku ngobrol sebentar.
Tak berapa lama, kami semua berangkat menuju lokasi pernikahan, di rumah Bu Dyah Wirda. Kukemudikan motorku perlahan-lahan dibelakang anak-anak SMP yang pada ngontel. Begitu sampai di lokasi, aku bertemu dengan banyak guru-guru Al Uswah... Wah, Subhanallah... Aku kangen banget dengan mereka, padahal baru seminggu aku meninggalkan mereka. Setelah kangen-kangenan dan menunggu beberapa saat, akhirnya pasangan pengantin itu keluar dari "sarangnya". Wow, Bu Dyah cantik banget, senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya, terlihat sekali kalau beliau benar-benar bahagia. Pak Gatot terlihat agak grogi, beliau juga agak gelisah. sepertinya beliau gelisah gara-gara kepanasan. Maklum saja, para undangan aja kepanasan gimana dengan pengantinnya? jelas tambah kepanasan dengan pakaian pengantin yang njelimet, biasalah pakaian pengantin adat jawa gitu.
Setelah acara sambutan dari pihak mempelai laki-laki dan perempuan, serta pembacaan doa yang dipimpin langsung oleh sang Manager Al Uswah, Ust. Amin, acara selanjutnya adalah ramah tamah, dimulai dengan makan dan pembagian es krim. Wuih, tempatnya full banget, aku sampai tidak bisa kemana-mana walaupun untuk sekedar menyapa guru-guru yang baru berdatangan.
Akhirnya sedikit demi sedikit tamu-tamu pulang, tinggallah beberapa sanak keluarga mempelai, guru-guru Al Uswah dan siswa-siswi SMP, kami berfoto-foto ria. Untungnya aku bawa kamera, sekalian saja aku minta Pak Mukhlis untuk jadi fotografer. Tapi kok, hasilnya jadi kacau semua sih Pak Mukhlis??? Hehe... biar deh, kan biar keliatan alami ya. Setelah puas berfoto dan bercanda bersama, kami pulang. Rombonganku "bermarkas" dulu di sekolahan sambil ambil lauk untuk anak-anak SMP, sedangkan aku mengantarkan Bu Suci pulang.
Sebelum aku pulang ke Surabaya, aku berpamitan dengan anak-anak, Pak Mukhlis, Pak Alief, Pak Ridwan, Mbak Ita serta elemen penting Al Uswah yang lainnya. Kemudian aku kembali kerumah Bu Suci untuk menyelesaikan beberapa urusan sambil bercengkrama dengan Arda yang lutchu... :)
Diperjalanan pulang, kuputar lagi memoriku saat berada di lokasi acara, aku senyum-senyum sendiri. bagaimana tidak? jika ingat dulu, Bu Dyah Wirda dengan beberapa guru lain sering menggojlok Pak Gatot yang belum nikah di usia yang sekian. Dan ketika itu Pak Gatot membela diri untuk menangkis gojlokan mereka. Kemudian ketika dulu saling menjaga jarak karena bukan muhrimnya, sekarang mereka terlihat selalu bergandengan tangan... ah lucunya... Rencana Allah itu memang mengejutkan dan tak disangka-sangka ya. Semuanya begitu indah.
Selamat menempuh hidup baru untuk Pak Gatot dan Bu Dyah Wirda, Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar